7 Dampak Memakan Barang Haram, Bestari 081319273984

BESTARI,Sebenarnya jika kita renungkan dan amati dengan seksama, maka kita akan menemukan bahwa kenikmatan dunia yang dihalalkan bagi kita sebagai manusia jauh melebihi jumlah barang-barang yang diharamkam. Bahkan barang-barang yang diharamkan sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan barang-barang yang halal.. Dan jika kita renungkan lebih jauh lagi, sebenarnya pengharaman itu semata-mata demi kepentingan kita juga sebagai manusia. Barang-barang haram tersebut mengandung kemudharatan dan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia.

Untuk itu umat Islam dituntut untuk menghindari keharaman dan menjaga kualitas kehalalan barang apapun yang dikonsumsi, baik berupa makanan maupun yang bukan berupa makanan. Allah SWT berfirman:

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah (2):168)

Pada ayat di atas, Allah SWT menekankan tentang pentingnya mengonsumsi barang yang halal, yang dengan kata lain, melarang manusia untuk mengonsumsi barang yang haram, seraya menyeru agar manusia tidak mengikuti langkah-langkah syaitan yang merupakan musuh yang nyata bagi manusia.


A.      TUJUH DAMPAK MEMAKAN BARANG HARAM

1.       Memakan barang haram adalah perbuatan mendurhakai Allah dan mengikuti langkah-langkah syaitan.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah [2]:168)

Allah memerintahkan untuk memakan barang yang didapatkan secara halal. Sebaliknya, memakan, mencari, mendapatkan barang dengan jalan yang haram adalah perbuatan durhaka dan merupakan jalan yang dirintis oleh syaitan.

2.       Memakan barang haram dapat menjauhkan diri dari amal shalih

“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al Mu’minuun [23]: 51)

Pada ayat di atas Allah SWT memerintahkan para rasul untuk hanya memakan makanan yang didapatkan secara halal, lalu Allah SWT memerintahkan mereka untuk beramal shalih.

Ayat diatas juga mengisyaratkan adanya hubungan yang sangat erat antara mengkonsumsi barang yang halal dengan amal shalih. Tubuh kita tidak akan bergairah untuk melakukan amal-amal shalih apabila tumbuh dan berkembang dari makanan yang haram. Dan tubuh yang malas beramal shalih tidak akan bisa merasakan kenikmatan ibadah kepada Allah SWT. Hal inilah yang menjadi dasar timbulnya perasaan stress dan depresi yang seringkali dialami oleh manusia.

3.       Memakan harta haram adalah ciri khas kelompok mayoritas Yahudi

“Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.” (QS Al Maaidah [5]:62)


Masyarakat Yahudi digambarkan sebagai sebuah masyarakat yang rusak dan hancur, di mana salah satu ciri khas mereka adalah sangat suka memakan barang haram, baik dalam bentuk suap maupun riba. Bila kerusakan ini ditiru oleh masyarakat Muslim, maka kerusakan dalam masyarakat Muslim tak terelakkan lagi.

4.       Barang haram akan mengundang api neraka untuk membakarnya

Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidaklah tumbuh setiap daging yang diberi asupan makanan yang haram melainkan nerakalah yang berhak membakarnya.”
(HR Ahmad dan Tirmizi, shahih Al Albani)

Secuil pun barang haram yang masuk ke perut kita, maka kelak di akhirat nanti akan dibakar oleh api neraka. Dengan demikian, setiap kepala keluarga yang bersungguh-sungguh ingin menjauhkan keluarganya dari siksa api neraka maka tentunya akan menjauhkan diri dari membawa pulang barang haram untuk dikonsumsi oleh anak dan istrinya.

5.       Doa yang tidak dikabulkan

“… Seorang lelaki yang menadakan perjalanan jauh, berambut kusut dan berdebu, menadahkan tangannya ke langit ‘Ya Rabb, ya Rabb’, padahal makanannya berasal dari yang haram, minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya berasal adari yang haram dan makan dari yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan.” (HR Muslim)

Hadits di atas menggambarkan seseorang yang memiliki 4 faktor untuk dikabulkan doanya:
a.       Melakukan perjalanan jauh yang sangat melelahkan, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW:

Tiga doa yang mustajab tanpa ada keraguan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang melakukan perjalanan jauh, dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR Abu Daud)

b.      Berpenampilan dengan rambut kusut dan pakaian berdebu, sebagaimana yang dituturkan Rasulullah SAW:

Berapa banyak orang yang berambut kusut lagi berdebu, memakai kain lusuh, tidak diacuhkan, namun jika bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah kabulkan.” (HR Tirmizi, ia berkata, “Hadits ini hasan gharib”)

c.       Berdoa sambil mengangkat menadahkan tangannya ke langit, sebagaimana penuturan Rasulullah SAW:

Sesungguhnya Rabb kalian tabaraka wa ta’ala Maha Malu dan Maha Dermawan. Dia malu terhadap hambaNya yang menadahkan tangan kepadaNya lalu tangan itu kembali turun hampa (tidak dikabulkan doanya).”
(HR Abu Daud, shahih oleh Al Albani)

d.      Ia berdoa berulang kali menyebut nama Allah, “Ya Rabb, ya Rabb.”

Empat faktor tersebut di atas menjadi tidak berarti sama sekali karena ia melakukan satu faktor ditolaknya doa, yaitu memakan barang haram. Karena doa adalah inti dari ibadah shalat, maka bila doa ditolak dikhawatirkan shalatnya pemakan barang haram pun akan ditolak juga. Demikian pula ibadah lainnya, termasuk sedekah dan zakatnya.

Allah tidak memerima shalat tanpa bersuci terlebih dahulu dan Allah juga tidak menerima sedekah dari harta haram.”
(HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albani)

6.       Barang haram adalah penyebab kehinaan, kemunduran serta kenistaan.

“Bila kalian melakukan transaksi ribawi, tunduk dengan harta kekayaan (hewan ternak), mengagungkan tanaman dan meninggalkan jihad niscaya Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dijauhkan dari kalian hingga kalian kembali kepada syariat Allah (dalam seluruh aspek kehidupan kalian).” (HR Abu Daud dishahihkan oleh Al Albani)

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menjelaskan penyebab kehinaan yang mendera ummat Islam saat ini di antaranya adalah transaksi haram yang dilakukan dalam bentuk riba.

7.       Barang haram menjadi pertanda azab akan turun.

“Apabila perzinahan dan riba merajalela di sebuah kampung, sungguh mereka telah mengundang azab untuk menimpa mereka.”
(HR Al Hakim, hasan li ghairihi menurut Al Albani)
               
Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa barang-barang yang kita konsumsi adalah barang-barang halal, yang terhindar dari kontaminasi barang haram baik pada saat produksi maupun distribusinya, serta didapatkan dengan cara-cara yang halal.

No comments:

Post a Comment